Setelah berpuasa sejak beberapa tahun silam, Gunung Agung, si Raksasa Bali itu kembali bersatus siaga IV alias awas.
Gunung api yang sudah berstatus awas biasanya akan meletus setelah beberapa jam dinyatakan. Namun, sampai saat ini puncak tertinggi di Bali itu tidak kunjung meletus.
Ada beberapa penyebab mengapa Raksasa Bali yang dipercayai menjadi tempat Dewa Siwa berada itu tidak meletus juga, walaupun telah menunjukkan beberapa tanda-tanda, seperti terjadinya gempa di beberapa titik pada Pulau Bali.
Menurut Metrotvnews.com (2/10), penyebab Raksasa Bali belum meletus adalah karakteristik. Raksasa Bali memiliki karakteristik yang berbeda dari gunung yang lainnya.
Kawah Raksasa Bali yang tertutup menjadi salah satu karakteristik yang menyebabkan Raksasa Bali tidak meletus walaupun sudah berstatus awas.
Menurut paparan Suantika pada metrotvnews.com mengenai penyebab belum meletusnya Raksasa Bali adalah akibat magma yang telah membeku karena letusan Gunung Agung yang kedua pada beberapa tahun silam.
"Karena ada sumbatan yg terlalu tebal sehingga magma sulit menembus ke permukaan. Kekuatan magmanya belom kuat untuk meletus," ujar Ni Made Budi Kartika, Mahasiswa Fakultas Hukum,
Universitas Warmadewa, Bali.
Universitas Warmadewa, Bali.
Dampak Bagi Warga Bali
Dampak Raksasa Bali yang belum meletus walaupun sudah berstatus awas sangat terasa bagi masyarakat yang tinggal di kaki gunung Agung, khususnya di wilayah Karangasem.
Menurut Ika, Raksasa Bali yang tak kunjung meletus berdampak besar bagi perekonomian masyarakat sekitar. Seperti warga bali yang berternak sapi di dekat Gunung Agung, ternaknya dijual dengan harga yang "miring". Harga yang biasanya sampai 15 juta, namun karena adanya bencana ini jadi 3 juta. Begitu juga galian-galian tanah dan pasir yang tersisa dari Raksasa Bali meletus beberapa tahun silam jadi agak sedikit terlambat untuk membangun karena truk-truk dilarang ke sana.
"Selain itu, untuk omset pariwisata di Bali juga turun karena Gunung Agung ini biasanya akhir tahun pasti ramai. Namun, karena adanya bencana ini turis dan domestik banyak yang membatalkan liburannya di Bali. Pemerintah meminta agar wisatawan berhati-hati dan jangan lupa berdoa. Tetap menjauh dari wilayah2 yang berbahaya," lanjut Ika.
Raksasa Bali yang tak kunjung meletus membuat pemerintah menyediakan tempat pengungsian di beberapa titik di daerah Bali dan tidak akan membangun tempat pengungsian di luar Bali. Hal itu karena para pengungsi lebih nyaman berada di Bali bersama dengan tetangga satu desanya.
Lalu, jika dilihat dari tanda-tanda dan statusnya yang sudah awas, kapankah Raksasa Bali meletus ?

Komentar
Posting Komentar