“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Kutipan tersebut adalah perkataan sang pahlawan sekaligus presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno.
Walaupun sejarah sudah terjadi pada masa lalu namun sejarah tidak pantas dilupakan dan sejarah akan menjadi bekal untuk perjuangan bangsa menghadapi segala permasalahan yang akan datang nanti.
Tahu tentang sejarah itu harus. Mengenal sejarah itu kepentingan. Dan menghargai sejarah itu suatu kewajiban. Tidak ada masa depan indah tanpa adanya sejarah dibaliknya.
Lalu dari mana kita dapat menghargai sejarah dan bagaimana cara melakukannya?
Tak perlu meminjam mesin waktu yang dimiliki salah satu tokoh kartun agar kembali ke masa lalu untuk melihat atau sekedar mennengok sejarah. Yang terpenting adalah dari mana kita dapat menghargai sejarah itu. kita cukup mengunjungi museum-museum yang ada di seluruh Indonesia.
Museum dapat menghantarkan kita ke masa lalu. Masa di mana perjuangan mempertahankan kemerdekaan amat sangat dipertaruhkan. Museum juga membuat kita belajar tentang sebuah kekuatan, toleransi dan kebersamaan pada masa lalu, yang sekarang nilai itu sudah hampir punah di kalangan remaja Indonesia.
Dahulu mengenal sejarah lebih dalam tentang suatu kota atau suatu bangsa menjadi tujuan utama berkunjung ke museum. Namun sekarang sudah tidak lagi. Sudah tergantikan dengan tujuan yang baru, yaitu selfie atau mencari foto di museum yang nantinya akan di upload di media sosial atau di jadikan foto profil.
“Pengen foto-foto aja kaya di tumblr terus nanti diupload di instragam.” Ujar Stefanny, saat ditanyakan tujuan utama mengunjungi Museum Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat.
Fungsi museum pun kini sudah berubah. Sudah bukan sebagai tempat edukasi lagi melainkan tempat hiburan semata. Hiburan bagu mereka yang egois, yang lupa akan perjuangan pahlawan.
Tahukah kalian fugsi museum yang sesungguhnya?
Seperti yang terdapat dalam fungsklopedia.com. mengenai fungsi utama museum. Museum utama museum adalah untuk menyimpan, merawat, mengamankan dan memanfaatkan koleksi museum berupa benda cagar budaya. Fungsi museum juga dibagi dua, yaitu tempat pelestarian dan tempat informasi.
Mungkin masih ada yang mengunjungi museum seperti pada umumnya atau seperti pada tujuan museum itu dibuat. Meski itu sudah amat jarang di jaman modern serba canggih seperti sekarang ini.
Menurut Pak Azmawi, petugas keamanan Kota Tua bahwa rombongan anak sekolah masih suka berkunjung ke museum dengan tujuan utama yaitu untuk pembelajaran atau edukasi.
Walaupun Cuma serombongan anak sekolahan yang sedang melaksanakan study tour, setidaknya masih ada yang berkunjung ke museum dengan tujuan utama untuk edukasi. Dan yang lebih penting lebih mengenal dan menghargai sejarah.
Apa saja yang dilakukan pengunjung museum pada era modern?
Salah satu fungsi museum adalah sebagai tempat hiburan atau tempat wisata. Walaupun untuk tempat wisata, museum ini tetap memiliki nilai edukasi dan sejarah yang utama. Serta harus diketahui oleh bangsa. Terutama para pemuda generasi penerus bangsa.
Jaman sekarang sudah banyak pemuda yang tidak peduli dengan sejarah bahkan menganggap sejarah bangsa itu tidak penting bagi dirinya. Sehingga tujuan utama ke museum hanya untuk berlibur atau main-main saja.
“Tidak suka baca sejarah yang ada di museum.” Kata Mira, pengunjung.
Ada lagi pengunjung yang bertujuan hampir sama dengan mira dan stefanny. Walaupun pengunjung yang satu ini tidak separah dengan Mira dan Stefanny yang tidak mengutamakan sejarah dalam kunjungannya ke museum.
Menurut Prambudi, pengunjung asal BSD, menyatakan tujuannya ke museum adalah ingin mengenal tentang kota tua dan liburan serta main-main.
Namun kebanyakan pengunjung di sini hanya untuk bermain-main saja dan mengesampingkan sejarah-sejarah yang terdapat di museum.
Azmawi, Petugas Keamanan Kota Tua mengutarakan pendapatnya mengenai kebanyakan pengunjung kota tua pada masa kini. “Yang saya lihat pengunjung di sini kebanyakan foto-foto dan menikmati keindahan malam saja.” lugasnya.
Betapa mirisnya generasi penerus bangsa, yang seharusnya lebih dekat dan kenal dengan sejarah, agar bisa belajar untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Justru neremehkan sejarah dan tidak mempedulikannya.
Kebiasaan foto-foto atau selfie sudah menjadi kebudayaan bagi pengunjung museum di era globalisasi seperti ini. Bukan hanya kalangan remaja namun orang tua pun seperti itu.
Sebenarnya tidak ada yang melarang tentang suatu kegiatan yang sekarang sudah menjadi kebiasaan bahkan budaya pengunjung museum. Namun yang menjadi permasalahan adalah keutamaan berfoto-fotoria menjadi tujuan yang utama dan melupakan sejarah serta edukasi yang ada di dalamnya.
Steffanny berpesan kepada pengunjung yang suka foto-foto, termasuk dirinya sendiri. “Kita boleh foto, tetapi jangan merusak dan harus menjaga lingkungan.”
Mira juga berpesan bahwa jika berkunjung ke kota tua harus mengetahui asal-usul kota tua. Tidak hanya sekedar foto dan dijadikan foto profil saja.
Memang foto-foto suatu museum dan menggunggahnya ke salah satu akun media sosial memiliki dampak positifnya, seperti mempromosikan tempat tersebut. Namun alangkah baiknya mempelajari sejarah terkandung di museum tersebut terlebih dahulu. Kalo bukan pemuda siapa lagi yang melanjutkannya nanti
Komentar
Posting Komentar